Paradoks Hemat Listrik: Lansia Irit, Tagihan Menghampiri
Hemat Listrik, Tapi Tetap Ditagih
Upaya berhemat kerap dianggap sebagai langkah bijak di tengah meningkatnya biaya hidup. Namun ironi terjadi ketika pasangan lansia di Desa Orahua, Kabupaten Nias, harus membayar sekitar Rp600 ribu untuk penggantian meteran listrik karena penggunaan listrik mereka dinilai tidak wajar—terlalu hemat. Peristiwa ini pun menuai sorotan publik karena dinilai tidak berpihak pada masyarakat kecil.
Menurut keterangan keluarga, pasangan lansia tersebut hanya menggunakan beberapa peralatan sederhana seperti tiga lampu berdaya rendah dan satu rice cooker. Token listrik yang diisi sejak Desember 2025 bahkan masih bertahan karena pemakaian listrik yang sangat minim. Namun kondisi itu justru memicu kecurigaan petugas yang menganggap meteran listrik bermasalah.
Pasangan lansia tersebut kemudian dihadapkan pada pilihan sulit: mengganti meteran listrik dengan biaya ratusan ribu rupiah atau menghadapi kemungkinan pencabutan aliran listrik. Pada akhirnya mereka membayar Rp600 ribu menggunakan tabungan dari bantuan sosial yang seharusnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kasus ini menyoroti persoalan dalam pelayanan publik yang kerap lebih berpegang pada prosedur administratif daripada memahami kondisi sosial masyarakat. Konsumsi listrik yang rendah dianggap tidak normal, padahal bagi warga yang hidup sederhana hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pelayanan publik semestinya hadir untuk melindungi masyarakat, bukan menambah beban mereka.

Komentar
Posting Komentar