Postingan

Merawat Ingatan Hari Bumi, Menjaga Masa Depan Bumi

Gambar
  Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati  Hari Bumi  sebagai momentum refleksi hubungan manusia dengan alam. Peringatan ini bermula pada tahun 1970 di  Amerika Serikat  atas inisiatif  Gaylord Nelson  sebagai respons terhadap meningkatnya kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri. Sejak saat itu, Hari Bumi menjadi simbol lahirnya kesadaran global terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Di  Indonesia , peringatan Hari Bumi semakin dikenal sejak era reformasi melalui berbagai gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil yang menyoroti persoalan deforestasi, pencemaran, dan krisis sampah. Namun, peringatan ini masih sering berhenti pada kegiatan simbolik tanpa diikuti perubahan nyata dalam perilaku menjaga lingkungan. Hari Bumi seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya agenda tahunan, tetapi tanggung jawab bersama. Bagi mahasiswa, refleksi ini penting sebagai bagian dari kesadaran intelektual untuk merawat bumi sebag...

KARTINI: Antara Seremonial dan Perjuangan Nyata

Gambar
  Meneladani Semangat Juang Sang Pionir Emansipasi di Hari Kartini Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Lebih dari sekadar seremoni mengenakan pakaian adat, momen ini menjadi pengingat pentingnya kesetaraan akses pendidikan dan karya bagi perempuan di era modern. Dilansir dari berbagai catatan sejarah, penetapan Hari Kartini secara resmi dimulai sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964. Keputusan ini sekaligus menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Jejak Pemikiran Lewat Surat Perjuangan Kartini dikenal unik karena dilakukan melalui korespondensi. Dikutip dari buku kumpulan suratnya yang fenomenal, Door Duisternis tot Licht atau "Habis Gelap Terbitlah Terang", Kartini kerap menuangkan keresahannya mengenai tradisi pingitan dan terbatasnya kesempatan belajar...

Yudisium FUAD Lepas 40 Wisudawan, Skripsi “Childfree” Raih Predikat Terbaik

Gambar
LPM Gelora Parrhesia, Rejang Lebong, 21 April 2026 - Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) kembali mengukuhkan lulusan terbarunya dalam gelaran yudisium yang berlangsung khidmat pada Senin (20/4/2026). Sebanyak 40 mahasiswa dari empat program studi resmi dinyatakan lulus dan menyandang gelar sarjana dalam prosesi tersebut. Ketua Panitia Yudisium, Brian M. Faza, mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan sempat diwarnai dinamika teknis berupa miskomunikasi internal beberapa hari menjelang pelaksanaan. Meski demikian, seluruh rangkaian acara tetap berlangsung terstruktur dan lancar berkat koordinasi kolektif panitia di lapangan. Berdasarkan data panitia, peserta yudisium didominasi oleh Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IPI) sebanyak 14 orang, disusul Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) sebanyak 13 orang, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) sebanyak 10 orang, serta Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) sebanyak 3 orang. Salah satu capaian membanggakan diraih oleh M. T...

PASKAH: Di Antara Luka dan Kebangkitan

Gambar
  Setiap tahun, Hari Paskah datang bukan sekadar sebagai perayaan keagamaan, tetapi sebagai pengingat bahwa harapan selalu lahir dari luka. Kisah kebangkitan bukan hanya cerita masa lalu, melainkan cermin bagi manusia hari ini yang sering jatuh, kecewa, dan kehilangan arah. Di tengah dunia yang bising oleh ambisi dan kepentingan, Paskah mengajak kita berhenti sejenak merenung tentang arti pengorbanan dan keberanian untuk bangkit kembali.  Paskah mengingatkan bahwa penderitaan tidak selalu menjadi akhir cerita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan ketidakadilan, pengkhianatan, bahkan kelelahan yang terasa tak berujung. Namun pesan kebangkitan mengajarkan bahwa selalu ada jalan pulang menuju harapan. Bahwa gelap tidak pernah benar-benar menang selama manusia masih percaya pada cinta dan kebaikan.  Di tengah realitas sosial yang kadang terasa keras, nilai-nilai Paskah menjadi penting untuk dihidupkan kembali bukan hanya di rumah ibadah, tetapi juga di ruang-rua...

Cuaca Ekstrem, Sejumlah Wilayah di Kabupaten Lebong Terendam Banjir dan Luapan Sungai

Gambar
LPM Gelora Parrhesia, Rejang Lebong, 5 April 2026 - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Lebong pada Minggu (05/04/2026) menyebabkan sejumlah titik kembali terendam banjir. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga, terutama yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai dan kawasan padat penduduk. Dilansir dari laman Teropong Publik, meluapnya Sungai Uram merendam permukiman warga di Desa Lemeu, Kecamatan Uram Jaya. Air dilaporkan mulai masuk ke rumah-rumah warga sejak pukul 15.30 WIB dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa. Akibatnya, aktivitas masyarakat terganggu karena akses jalan utama desa turut tergenang air. Sementara itu, dikutip dari unggahan akun Bengkulu Info, kondisi serupa juga terjadi di wilayah Muara Aman. Dalam dokumentasi visual yang dibagikan, tampak genangan air berwarna cokelat merendam area pertokoan dan ruas jalan di pusat kota pada sore hari. Narasi dalam unggahan tersebut juga mengingatkan warga agar tetap waspada karena debit air masih berpotensi m...

Idul Fitri: Antara Tradisi dan Refleksi

Gambar
  Idulfitri selalu datang dengan suasana meriah: takbir berkumandang, rumah ramai, dan makanan melimpah. Tapi di balik itu, muncul pertanyaan sederhana—apakah kita benar-benar kembali menjadi lebih baik, atau hanya menjalankan kebiasaan tiap tahun? Idulfitri sering kali hanya terasa sebagai perayaan, bukan sebagai momen refleksi diri. Selama Ramadan, kita belajar menahan diri, sabar, dan jujur. Namun saat lebaran tiba, yang terlihat justru kebiasaan belanja berlebihan dan keinginan tampil sempurna. Fokusnya bergeser, dari memperbaiki diri menjadi memenuhi tuntutan sosial. Nilai-nilai yang sudah dilatih selama sebulan perlahan memudar. Tradisi saling memaafkan juga sering hanya jadi ucapan. Kata “mohon maaf lahir dan batin” diulang, tapi tidak selalu diikuti dengan kesungguhan untuk berubah. Masalah lama kadang masih ada, hanya ditutupi dengan kata-kata. Akibatnya, Idulfitri terasa seperti formalitas, bukan perubahan yang nyata. Meski begitu, Idulfitri tetap punya makna penting. Ini...

Nyepi: Sehari Tanpa Suara, Seumur Hidup Penuh Makna

Gambar
  Hari Raya Nyepi merupakan hari besar umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Umat Hindu diharuskan untuk berdiam diri, tidak bekerja, dan merenungkan kehidupan mereka agar menjadi lebih baik di tahun yang baru. Keheningan dan ketenangan menjadi napas dari hari Raya Nyepi. Umat Hindu memerlukan suasana hening, sepi, dan tenang untuk  melakukan renungan, dan introspeksi terhadap kehidupan yang telah berlalu. Di Indonesia Perayaan Hari Raya Nyepi sangat terasa di Bali, lantaran mayoritas penduduknya beragama Hindu. Dilansir dari  Telkom university  Pada Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama yang disebut Catur Brata Penyepian, yang meliputi: 1. Amati Geni (tidak menyalakan api atau listrik) 2. Amati Karya (tidak bekerja) 3. Amati Lelungan (tidak bepergian) 4. Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang) Hari Raya Nyepi Umat Hindu juga menggelar serangkaian upacara adat. Sebagaimana dikutip dari  Pemkab Buleleng  tahapan upacara d...