Postingan

Hari Puisi Nasional: Puisi, Perlawanan, Keabadian

Gambar
  Setiap tanggal 28 April, Indonesia memperingati Hari Puisi Nasional. Tanggal ini bukan dipilih secara acak, dilansir dari ANTARA News, pemilihan 28 April diambil untuk memperingati hari wafatnya Chairil Anwar, salah satu penyair paling berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia. Uniknya, berbeda dari kebanyakan hari peringatan nasional yang merujuk pada hari lahir tokoh, Hari Puisi Nasional justru ditetapkan berdasarkan tanggal kepergiannya yang seolah menegaskan betapa besarnya warisan yang ia tinggalkan. Dikutip dari Tirto.id, Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949 di Jakarta akibat penyakit tuberkulosis (TBC). Ia pergi di usia 26 tahun di usia yang sangat muda, namun meninggalkan jejak yang tak terhapus yaitu sebanyak 96 karya, di antaranya 70 puisi yang hingga kini terus dibaca, dikutip, dan diresapi. "Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang …Aku mau hidup seribu tahun lagi." Chairil Anwar, Aku (1943) Dilansir dari laman Badan Bahasa Kemdikbudristek, peringata...

Polisi Gerebek Daycare Little Aresha Diduga Terjadi Kekerasan terhadap Anak

Gambar
  LPM Gelora Parrhesia, Rejang Lebong, 26 April 2026 - Aparat kepolisian menggerebek Daycare Little Aresha yang berlokasi di Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta pada Jumat (24/4/2026). Penggerebekan dilakukan menyusul dugaan adanya praktik kekerasan dan penelantaran terhadap anak di tempat penitipan tersebut. Dilansir dari Kompas TV, petugas menemukan sejumlah kondisi yang memprihatinkan saat melakukan pengecekan langsung di lokasi. Beberapa balita dilaporkan ditemukan dalam keadaan tangan terikat, sementara bayi tidur hanya mengenakan popok tanpa pakaian. Sementara itu, Detik.com menyebutkan bahwa pihak kepolisian telah mengamankan sejumlah pihak yang diduga terlibat, termasuk pimpinan yayasan hingga pengasuh daycare. Namun, motif dari dugaan tindakan tersebut masih dalam proses pendalaman. Kasat Reskrim Polresta Jogja, Riski Adrian, membenarkan adanya penggerebekan tersebut. “Benar, Satuan Reserse Polresta Jogja tadi (Jumat) sore baru saja melakukan penggerebekan sebuah tempat peni...

Ajaibnya Gus Dur: Menjawab Tekanan dengan Tawa

Gambar
  Di tengah riuhnya politik Indonesia pascareformasi, ketika kekuasaan menjadi ruang tarik-menarik kepentingan, hadir sosok yang tak biasa: Abdurrahman Wahid. Ia bukan hanya presiden, tetapi juga kiai dan pemikir yang memilih cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Di saat banyak pemimpin berbicara dengan bahasa kekuasaan, Gus Dur justru hadir dengan kesederhanaan santai, jenaka, tapi dalam membuatnya dikenang bukan sekadar sebagai pemimpin, melainkan sebagai manusia yang menghadirkan rasa. Salah satu momen yang terus diingat terjadi ketika tekanan politik terhadapnya memuncak. Desakan agar ia mundur datang dari berbagai arah, situasi kian memanas, dan posisinya berada di ujung ketidakpastian. Namun saat tuntutan itu disampaikan langsung, Gus Dur tidak merespons dengan kemarahan atau pernyataan formal yang kaku. Ia justru menjawab ringan, “Jangankan mundur, maju saja susah. Saya buta.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mengundang senyum. Tapi di baliknya, tersimpan kejujuran t...

Jembatan Cangar dan Empati yang Salah Arah

Gambar
  Kasus dua pemuda yang ditemukan meninggal di kawasan  Jembatan Kembar Cangar  dalam waktu berdekatan kembali mengguncang publik  Indonesia . Peristiwa ini cepat viral di media sosial, memunculkan gelombang simpati luas. Namun di tengah duka, muncul pula narasi yang keliru sebagian warganet justru memberi penghormatan berlebihan, seolah tragedi tersebut adalah bentuk keberanian menghadapi hidup. Padahal, peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bahwa persoalan kesehatan mental masih belum ditangani secara serius di ruang publik. Empati memang penting, tetapi romantisasi penderitaan justru berbahaya karena dapat menormalisasi tindakan ekstrem. Menghormati korban bukan berarti membenarkan tindakannya, melainkan memastikan tragedi seperti ini dibaca sebagai tanda bahwa dukungan sosial masih sangat dibutuhkan. Bagi mahasiswa sebagai kelompok intelektual, kasus Cangar mestinya menjadi pengingat: ruang digital tidak cukup hanya ramai berduka, tetapi juga harus mampu menghad...

Merawat Ingatan Hari Bumi, Menjaga Masa Depan Bumi

Gambar
  Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati  Hari Bumi  sebagai momentum refleksi hubungan manusia dengan alam. Peringatan ini bermula pada tahun 1970 di  Amerika Serikat  atas inisiatif  Gaylord Nelson  sebagai respons terhadap meningkatnya kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri. Sejak saat itu, Hari Bumi menjadi simbol lahirnya kesadaran global terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Di  Indonesia , peringatan Hari Bumi semakin dikenal sejak era reformasi melalui berbagai gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil yang menyoroti persoalan deforestasi, pencemaran, dan krisis sampah. Namun, peringatan ini masih sering berhenti pada kegiatan simbolik tanpa diikuti perubahan nyata dalam perilaku menjaga lingkungan. Hari Bumi seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya agenda tahunan, tetapi tanggung jawab bersama. Bagi mahasiswa, refleksi ini penting sebagai bagian dari kesadaran intelektual untuk merawat bumi sebag...

KARTINI: Antara Seremonial dan Perjuangan Nyata

Gambar
  Meneladani Semangat Juang Sang Pionir Emansipasi di Hari Kartini Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Lebih dari sekadar seremoni mengenakan pakaian adat, momen ini menjadi pengingat pentingnya kesetaraan akses pendidikan dan karya bagi perempuan di era modern. Dilansir dari berbagai catatan sejarah, penetapan Hari Kartini secara resmi dimulai sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964. Keputusan ini sekaligus menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Jejak Pemikiran Lewat Surat Perjuangan Kartini dikenal unik karena dilakukan melalui korespondensi. Dikutip dari buku kumpulan suratnya yang fenomenal, Door Duisternis tot Licht atau "Habis Gelap Terbitlah Terang", Kartini kerap menuangkan keresahannya mengenai tradisi pingitan dan terbatasnya kesempatan belajar...

Yudisium FUAD Lepas 40 Wisudawan, Skripsi “Childfree” Raih Predikat Terbaik

Gambar
LPM Gelora Parrhesia, Rejang Lebong, 21 April 2026 - Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) kembali mengukuhkan lulusan terbarunya dalam gelaran yudisium yang berlangsung khidmat pada Senin (20/4/2026). Sebanyak 40 mahasiswa dari empat program studi resmi dinyatakan lulus dan menyandang gelar sarjana dalam prosesi tersebut. Ketua Panitia Yudisium, Brian M. Faza, mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan sempat diwarnai dinamika teknis berupa miskomunikasi internal beberapa hari menjelang pelaksanaan. Meski demikian, seluruh rangkaian acara tetap berlangsung terstruktur dan lancar berkat koordinasi kolektif panitia di lapangan. Berdasarkan data panitia, peserta yudisium didominasi oleh Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IPI) sebanyak 14 orang, disusul Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) sebanyak 13 orang, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) sebanyak 10 orang, serta Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) sebanyak 3 orang. Salah satu capaian membanggakan diraih oleh M. T...