Ajaibnya Gus Dur: Menjawab Tekanan dengan Tawa
Di tengah riuhnya politik Indonesia pascareformasi, ketika kekuasaan menjadi ruang tarik-menarik kepentingan, hadir sosok yang tak biasa: Abdurrahman Wahid. Ia bukan hanya presiden, tetapi juga kiai dan pemikir yang memilih cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Di saat banyak pemimpin berbicara dengan bahasa kekuasaan, Gus Dur justru hadir dengan kesederhanaan santai, jenaka, tapi dalam membuatnya dikenang bukan sekadar sebagai pemimpin, melainkan sebagai manusia yang menghadirkan rasa. Salah satu momen yang terus diingat terjadi ketika tekanan politik terhadapnya memuncak. Desakan agar ia mundur datang dari berbagai arah, situasi kian memanas, dan posisinya berada di ujung ketidakpastian. Namun saat tuntutan itu disampaikan langsung, Gus Dur tidak merespons dengan kemarahan atau pernyataan formal yang kaku. Ia justru menjawab ringan, “Jangankan mundur, maju saja susah. Saya buta.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mengundang senyum. Tapi di baliknya, tersimpan kejujuran t...