Postingan

Sinergi Baru di FSEI: Pelantikan Serentak 200 Pengurus Ormawa Usung Semangat Perubahan

Gambar
  LPM Gelora Parrhesia, Rejang Lebong, 1 Mei 2026 - Fakultas Syariah dan Hukum (FSEI) resmi memulai babak baru kepengurusan organisasi mahasiswa melalui prosesi pelantikan serentak yang berlangsung pada jum'at 01/05/2026. Acara ini menjadi momentum penting bagi regenerasi kepemimpinan di tingkat fakultas. Dalam wawancara eksklusif,  Rizaldi Fatoni, selaku Panitia Pelaksana Pelantikan Ormawa se-lingkungan FSEI, mengungkapkan bahwa persiapan acara ini telah dilakukan secara matang melalui koordinasi intensif. "Kami telah melaksanakan rapat sebanyak dua kali untuk memastikan kesiapan teknis, mulai dari pencarian sponsor hingga perlengkapan pendukung lainnya agar acara ini berjalan sukses," ujar Rizaldi. Pelantikan kali ini melibatkan sekitar 200 peserta yang merupakan representasi dari seluruh Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkup FSEI. Meskipun melibatkan massa yang cukup besar, panitia mengonfirmasi bahwa pelaksanaan berjalan lancar tanpa kendala berarti. Hal ini disebu...

Dari Aksi ke Pengakuan: Selamat Hari Buruh Nasional

Gambar
  Hari Buruh Nasional  berakar dari sejarah panjang perjuangan kelas pekerja di dunia. Pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1886, gerakan buruh di Chicago, Amerika Serikat, melakukan aksi besar menuntut pemberlakuan jam kerja delapan jam per hari. Aksi ini dikenal sebagai salah satu titik awal lahirnya peringatan Hari Buruh Internasional. Seiring waktu, gerakan buruh tersebut menyebar ke berbagai negara dan menjadi simbol perjuangan atas hak-hak pekerja, seperti upah layak, jam kerja manusiawi, dan kondisi kerja yang aman. Di banyak negara, 1 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari solidaritas buruh atau  May Day . Di Indonesia, peringatan Hari Buruh mulai dikenal sejak masa kolonial, ketika kaum pekerja pabrik dan perkebunan mulai membentuk organisasi pergerakan untuk menuntut hak kerja yang lebih adil. Namun, pada masa Orde Baru, peringatan Hari Buruh sempat dilarang dan dianggap sebagai aktivitas yang sensitif secara politik. Momentum kebangkitan kembali terjadi setelah ...

Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Tewaskan 14 Orang

Gambar
  LPM Gelora Parrhesia, Rejang Lebong, 29 April 2026 - Kecelakaan tragis yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) terjadi di kawasan Bekasi pada Senin (27/4/2026). Peristiwa ini menyebabkan korban jiwa serta mengganggu operasional transportasi perkeretaapian di wilayah tersebut. Berdasarkan laporan Detik.com, jumlah korban meninggal dunia mencapai 14 orang. Selain itu, puluhan penumpang lainnya mengalami luka-luka dan telah dilarikan ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Proses evakuasi dilakukan oleh tim gabungan guna mempercepat penanganan korban di lokasi kejadian. “Kami fokus pada evakuasi korban dan percepatan penanganan di lokasi,” ujar salah satu petugas di lapangan. Sementara itu, BBC Indonesia melaporkan bahwa kecelakaan terjadi ketika kereta jarak jauh menabrak rangkaian KRL yang berada di jalur yang sama. Benturan keras menyebabkan beberapa gerbong mengalami kerusakan parah hingga keluar dari rel. Insiden ini diduga merupakan rang...

Hari Puisi Nasional: Puisi, Perlawanan, Keabadian

Gambar
  Setiap tanggal 28 April, Indonesia memperingati Hari Puisi Nasional. Tanggal ini bukan dipilih secara acak, dilansir dari ANTARA News, pemilihan 28 April diambil untuk memperingati hari wafatnya Chairil Anwar, salah satu penyair paling berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia. Uniknya, berbeda dari kebanyakan hari peringatan nasional yang merujuk pada hari lahir tokoh, Hari Puisi Nasional justru ditetapkan berdasarkan tanggal kepergiannya yang seolah menegaskan betapa besarnya warisan yang ia tinggalkan. Dikutip dari Tirto.id, Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949 di Jakarta akibat penyakit tuberkulosis (TBC). Ia pergi di usia 26 tahun di usia yang sangat muda, namun meninggalkan jejak yang tak terhapus yaitu sebanyak 96 karya, di antaranya 70 puisi yang hingga kini terus dibaca, dikutip, dan diresapi. "Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang …Aku mau hidup seribu tahun lagi." Chairil Anwar, Aku (1943) Dilansir dari laman Badan Bahasa Kemdikbudristek, peringata...

Polisi Gerebek Daycare Little Aresha Diduga Terjadi Kekerasan terhadap Anak

Gambar
  LPM Gelora Parrhesia, Rejang Lebong, 26 April 2026 - Aparat kepolisian menggerebek Daycare Little Aresha yang berlokasi di Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta pada Jumat (24/4/2026). Penggerebekan dilakukan menyusul dugaan adanya praktik kekerasan dan penelantaran terhadap anak di tempat penitipan tersebut. Dilansir dari Kompas TV, petugas menemukan sejumlah kondisi yang memprihatinkan saat melakukan pengecekan langsung di lokasi. Beberapa balita dilaporkan ditemukan dalam keadaan tangan terikat, sementara bayi tidur hanya mengenakan popok tanpa pakaian. Sementara itu, Detik.com menyebutkan bahwa pihak kepolisian telah mengamankan sejumlah pihak yang diduga terlibat, termasuk pimpinan yayasan hingga pengasuh daycare. Namun, motif dari dugaan tindakan tersebut masih dalam proses pendalaman. Kasat Reskrim Polresta Jogja, Riski Adrian, membenarkan adanya penggerebekan tersebut. “Benar, Satuan Reserse Polresta Jogja tadi (Jumat) sore baru saja melakukan penggerebekan sebuah tempat peni...

Ajaibnya Gus Dur: Menjawab Tekanan dengan Tawa

Gambar
  Di tengah riuhnya politik Indonesia pascareformasi, ketika kekuasaan menjadi ruang tarik-menarik kepentingan, hadir sosok yang tak biasa: Abdurrahman Wahid. Ia bukan hanya presiden, tetapi juga kiai dan pemikir yang memilih cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Di saat banyak pemimpin berbicara dengan bahasa kekuasaan, Gus Dur justru hadir dengan kesederhanaan santai, jenaka, tapi dalam membuatnya dikenang bukan sekadar sebagai pemimpin, melainkan sebagai manusia yang menghadirkan rasa. Salah satu momen yang terus diingat terjadi ketika tekanan politik terhadapnya memuncak. Desakan agar ia mundur datang dari berbagai arah, situasi kian memanas, dan posisinya berada di ujung ketidakpastian. Namun saat tuntutan itu disampaikan langsung, Gus Dur tidak merespons dengan kemarahan atau pernyataan formal yang kaku. Ia justru menjawab ringan, “Jangankan mundur, maju saja susah. Saya buta.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mengundang senyum. Tapi di baliknya, tersimpan kejujuran t...

Jembatan Cangar dan Empati yang Salah Arah

Gambar
  Kasus dua pemuda yang ditemukan meninggal di kawasan  Jembatan Kembar Cangar  dalam waktu berdekatan kembali mengguncang publik  Indonesia . Peristiwa ini cepat viral di media sosial, memunculkan gelombang simpati luas. Namun di tengah duka, muncul pula narasi yang keliru sebagian warganet justru memberi penghormatan berlebihan, seolah tragedi tersebut adalah bentuk keberanian menghadapi hidup. Padahal, peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bahwa persoalan kesehatan mental masih belum ditangani secara serius di ruang publik. Empati memang penting, tetapi romantisasi penderitaan justru berbahaya karena dapat menormalisasi tindakan ekstrem. Menghormati korban bukan berarti membenarkan tindakannya, melainkan memastikan tragedi seperti ini dibaca sebagai tanda bahwa dukungan sosial masih sangat dibutuhkan. Bagi mahasiswa sebagai kelompok intelektual, kasus Cangar mestinya menjadi pengingat: ruang digital tidak cukup hanya ramai berduka, tetapi juga harus mampu menghad...