KARTINI: Antara Seremonial dan Perjuangan Nyata

 


Meneladani Semangat Juang Sang Pionir Emansipasi di Hari Kartini

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Lebih dari sekadar seremoni mengenakan pakaian adat, momen ini menjadi pengingat pentingnya kesetaraan akses pendidikan dan karya bagi perempuan di era modern.

Dilansir dari berbagai catatan sejarah, penetapan Hari Kartini secara resmi dimulai sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964. Keputusan ini sekaligus menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Jejak Pemikiran Lewat Surat

Perjuangan Kartini dikenal unik karena dilakukan melalui korespondensi. Dikutip dari buku kumpulan suratnya yang fenomenal, Door Duisternis tot Licht atau "Habis Gelap Terbitlah Terang", Kartini kerap menuangkan keresahannya mengenai tradisi pingitan dan terbatasnya kesempatan belajar bagi kaum wanita di masanya.

"Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam." — R.A. Kartini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa yang Berhak Menulis Sejarah? Menyoal Pemutakhiran Sejarah Indonesia di Tengah Kepentingan Kekuasaan #PojokTulisan

Laki-Laki Juga Butuh Ruang Aman; Maskulinitas Bukan Soal Dominasi #PojokTulisan

Gana Samuhita, Komunitas Sosial Pemuda yang Hidupkan Literasi di Rejang Lebong