Yudisium FUAD Lepas 40 Wisudawan, Skripsi “Childfree” Raih Predikat Terbaik




LPM Gelora Parrhesia, Rejang Lebong, 21 April 2026 - Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) kembali mengukuhkan lulusan terbarunya dalam gelaran yudisium yang berlangsung khidmat pada Senin (20/4/2026). Sebanyak 40 mahasiswa dari empat program studi resmi dinyatakan lulus dan menyandang gelar sarjana dalam prosesi tersebut.

Ketua Panitia Yudisium, Brian M. Faza, mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan sempat diwarnai dinamika teknis berupa miskomunikasi internal beberapa hari menjelang pelaksanaan. Meski demikian, seluruh rangkaian acara tetap berlangsung terstruktur dan lancar berkat koordinasi kolektif panitia di lapangan.

Berdasarkan data panitia, peserta yudisium didominasi oleh Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IPI) sebanyak 14 orang, disusul Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) sebanyak 13 orang, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) sebanyak 10 orang, serta Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) sebanyak 3 orang.

Salah satu capaian membanggakan diraih oleh M. Thoriq Abrar dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) yang dinobatkan sebagai peraih predikat Yudisium Terbaik sekaligus Skripsi Terbaik. Dalam penelitiannya berjudul Fenomena Childfree dalam Perspektif Al-Qur’an: Studi Tematik Ayat-Ayat tentang Anak sebagai Keturunan, Thoriq mengkaji fenomena pasangan yang memilih tidak memiliki keturunan melalui pendekatan tematik ayat-ayat Al-Qur’an.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan menyelesaikan skripsi tidak lepas dari konsistensi pribadi selama proses penelitian. “Kunci keberhasilan paling jelas adalah melawan kemalasan. Kita harus tetap konsisten, sabar, dan terus mengerjakan skripsi meski ada hambatan dalam prosesnya,” ujarnya.

Melalui momentum yudisium ini, pihak fakultas berharap para lulusan tidak hanya berhenti pada pencapaian gelar akademik, tetapi mampu berkontribusi nyata di tengah masyarakat. “Harapan kami, mahasiswa yang menjalani yudisium hari ini dapat mengemban amanah sebagai lulusan FUAD agar bisa berkembang, berguna, dan berkontribusi langsung di tengah masyarakat,” pungkas Ketua Panitia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa yang Berhak Menulis Sejarah? Menyoal Pemutakhiran Sejarah Indonesia di Tengah Kepentingan Kekuasaan #PojokTulisan

Laki-Laki Juga Butuh Ruang Aman; Maskulinitas Bukan Soal Dominasi #PojokTulisan

Gana Samuhita, Komunitas Sosial Pemuda yang Hidupkan Literasi di Rejang Lebong