Megahnya Kampus Bergengsi Tersisihkannya Kampus Biasa #PojokTulisan
Tak bisa dimungkiri, kampus bergengsi kerap menjadi primadona. Nama besar, jaringan luas, dan segudang prestasi menjadikannya magnet bagi banyak orang. Bahkan, tak jarang mahasiswa dinilai dari almamaternya, seolah kualitas seseorang hanya dapat lahir dari institusi megah yang berlokasi di pusat kota.
Di sisi lain, kampus-kampus yang dianggap “biasa saja”—terlebih yang berada di kota kecil—masih sering dipandang sebelah mata. Mahasiswanya kerap diragukan kapasitasnya, bahkan tak jarang merasa minder ketika obrolan mulai menyinggung kampus-kampus favorit.
Lantas, benarkah kampus menentukan masa depan seseorang? Apakah mereka yang lahir dari kampus biasa akan terus dipinggirkan? Apakah kesuksesan hanya dimonopoli oleh lulusan universitas unggulan?
Jawabannya: tidak selalu.
Faktanya, kampus bukanlah pabrik pencetak kesuksesan. Ia hanyalah ruang yang bisa dimanfaatkan—atau diabaikan. Kualitas seseorang lebih ditentukan oleh bagaimana ia belajar, tumbuh, dan memberi dampak. Mahasiswa dari kampus biasa pun punya peluang yang sama untuk bersinar, sejauh mereka mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, dan menjadikan tantangan sebagai pemantik pembuktian.
Memang, tidak naif jika kita mengakui bahwa fasilitas, akses, dan pengakuan publik adalah faktor yang menjadikan kampus-kampus elite begitu menggoda. Namun menempatkan kampus lain sebagai “cadangan” atau “alternatif terakhir” adalah perspektif usang yang sudah saatnya ditinggalkan.
Bukankah kampus bergengsi hari ini pun lahir dari proses panjang—dari kerja keras mahasiswanya, dedikasi dosennya, dan kegigihan seluruh unsur di dalamnya yang terus belajar dan membuktikan diri?
______________________
Penulis: NA
Editor: CA

Komentar
Posting Komentar