People Pleasure "Tersenyum Tapi Tercekik" #PojokTulisan


Banyak orang tampak ramah, ringan tangan, dan selalu hadir dalam setiap kesulitan orang lain. Mereka datang membawa senyum, seolah tak pernah lelah menjadi baik. Tapi siapa sangka, senyum itu terkadang menyimpan sesak yang tak terlihat—bukan karena tubuh yang lelah, tapi karena hati yang tak pernah diberi ruang untuk berkata, “aku nggak bisa.”

Kita mungkin pernah berada di posisi itu. Mengangguk setuju saat diajak nongkrong meski kepala sedang penuh. Mengiyakan permintaan tolong ketika tenaga sudah di ujung batas. Tak enak menolak, takut dicap tidak peduli, takut mengecewakan. Maka kita terus berusaha menjadi ‘baik’ di mata orang lain, meskipun perlahan-lahan kita mengkhianati diri sendiri.

Rasa “nggak enakan” memaksa kita menyingkirkan kebutuhan pribadi. Kita menelan letih, menunda istirahat, dan mengubur perasaan hanya demi menyenangkan semua orang. Padahal, kebaikan tidak seharusnya tumbuh dari paksaan, apalagi jika tumbuh di atas pengabaian terhadap diri sendiri.

Kondisi ini dikenal sebagai people pleasure, keinginan berlebihan untuk diterima, diakui, dan dicintai, dengan mengorbankan kenyamanan pribadi. Kita begitu takut kehilangan tempat di hati orang lain, sampai lupa menjaga tempat bagi diri sendiri.

Padahal kita boleh menolak. Kita boleh merasa terbebani. Kita boleh memilih diam, tak hadir, atau bahkan tak membalas pesan ketika hati sedang kusut. Itu bukan dosa. Itu bukan keegoisan. Itu bentuk paling jujur dari mencintai dan melindungi diri sendiri.

Kita terlalu naif jika berpikir bisa menyenangkan semua orang. Karena kenyataannya, sebaik apa pun kita bersikap, akan tetap ada yang mencibir, menuntut lebih, atau merasa kurang. Maka, daripada menghabiskan energi untuk memuaskan ekspektasi semua orang, mengapa tidak mulai menjadi teman terbaik bagi diri sendiri?

Hargai dirimu. Dengarkan lelahmu. Karena saat kamu mulai memperlakukan dirimu dengan cinta, orang lain pun akan belajar melakukan hal yang sama. Kita tidak harus selalu hadir di setiap panggilan. Tidak harus setia pada semua permintaan. Kita hanya perlu jujur—tentang apa yang sanggup kita beri, dan kapan kita butuh berhenti.

Dan mungkin, langkah paling dewasa yang bisa kita ambil adalah mengatakan,
“Maaf, aku nggak bisa.”
              Tanpa merasa bersalah. Karena itu bukan bentuk pengkhianatan. Itu tanda bahwa kita sedang menjaga satu hal paling berharga dalam hidup: diri sendiri.

 ______________________
Penulis: NA
Editor: CA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa yang Berhak Menulis Sejarah? Menyoal Pemutakhiran Sejarah Indonesia di Tengah Kepentingan Kekuasaan #PojokTulisan

Laki-Laki Juga Butuh Ruang Aman; Maskulinitas Bukan Soal Dominasi #PojokTulisan

Gana Samuhita, Komunitas Sosial Pemuda yang Hidupkan Literasi di Rejang Lebong