Kampus Ramai, Sekre Kosong? - BicaraKampus




Waduh…waduh, kemana ya mahasiswa yang dulu rebutan buat masuk Organisasi Mahasiswa?

Dulu, sekretariat ramai penuh gelak tawa, sekarang hanya diisi dengan suara kodok dan jangkrik. Berkas-berkas yang bertumpukan berdebu seolah tak pernah disentuh. Bahkan, ada lampu yang tak pernah padam sampai pagi.

Gausah jauh-jauh….

Hal ini sangat terasa sekali di kampus kita tercinta. Seakan-akan organisasi mahasiswa kehilangan denyutnya. Kegiatan yang tak maksimal, regenerasi yang macet itu semua hanyalah sedikit banyaknya masalah yang dihadapi oleh UKM/UKK.

Bukan hanya terjadi di satu atau dua kampus, penurunan minat terhadap organisasi mahasiswa sudah menjadi fenomena nasional, nih. Berdasarkan laporan Good News From Indonesia pada tahun 2023, banyak mahasiswa yang lebih memilih kegiatan seperti magang, proyek freelance, atau kursus online dibanding terlibat aktif dalam kegiatan Ormawa. Bahkan dalam survei BEM KM FMIPA UGM di tahun 2024, program seperti Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dinilai lebih memberikan nilai tambah untuk karier mahasiswa, sehingga membuat minat terhadap organisasi mahasiswa semakin surut.

Di sisi lain, ada juga beban akademik yang tinggi, ditambah dengan tekanan sosial dan tuntutan organisasi yang tidak fleksibel, menjadi alasan kuat mahasiswa enggan bergabung. Artikel di Kompasiana menyoroti bagaimana mahasiswa merasakan ketidakmampuannya dalam membagi waktu, kurang percaya diri, atau bahkan tertekan karena budaya senioritas yang masih mengakar kuat di beberapa organisasi. Sekitar 39% responden dalam sebuah survei yang dilansir oleh ochidodol.blogspot.com menyatakan mutu organisasi masih lemah dan tidak memberi dampak nyata, sementara 25% lainnya menyebut bahwa tugas kuliah terlalu menyita waktu.

Situasi ini seharusnya tidak dibiarkan berlarut. Organisasi mahasiswa tetap punya peran penting dalam membentuk jiwa kepemimpinan, keterampilan komunikasi, serta keberanian bersuara di ruang publik. Tapi agar bisa relevan kembali, ormawa perlu melakukan adaptasi serius. Misalnya, dengan membuat kaderisasi yang lebih fleksibel, tanpa mengorbankan kualitas. Alih-alih fokus pada seremonial dan formalitas, organisasi bisa lebih menonjolkan proyek-proyek konkret yang terasa manfaatnya langsung, seperti pelatihan digital, kegiatan sosial berbasis data, atau kolaborasi lintas kampus dan komunitas luar.

Selain itu, lingkungan organisasi yang sehat bukan hanya tempat latihan bicara di depan umum, tapi juga ruang aman untuk tumbuh bareng, sambil tetap menjaga kewarasan mental dan batas pribadi.

Mungkin organisasi hari ini nggak sepopuler dulu. Tapi bukan berarti perannya hilang. Yang hilang mungkin cuma kemauan kita aja buat keluar dari zona nyaman, berani repot sedikit, dan percayalah bahwa hal kecil yang kita kerjakan hari ini bisa jadi langkah besar dikemudian hari.

 

Kamu mau ikut jalan atau cuma jadi penonton aja?

__________________________________________________________________________
Referensi penulisan:

  1. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/01/31/minat-organisasi-mahasiswa-menurun
  2. https://korpusipb.com/mbkm/minat-berorganisasi-mahasiswa-menurun-karena-mbkm-bagaimana-solusinya 
  3. https://www.kompasiana.com/rachmawatimaulidya/6470861782219932960dcb52/minat-berorganisasi-mahasiswa-semakin-rendah-ini-dia-penyebabnya 
  4. https://ochidodol.blogspot.com/2012/07/survei-minat-berorganisasi-di-kalangan.html


    Penulis & Editor: AA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa yang Berhak Menulis Sejarah? Menyoal Pemutakhiran Sejarah Indonesia di Tengah Kepentingan Kekuasaan #PojokTulisan

Laki-Laki Juga Butuh Ruang Aman; Maskulinitas Bukan Soal Dominasi #PojokTulisan

Gana Samuhita, Komunitas Sosial Pemuda yang Hidupkan Literasi di Rejang Lebong