Nyepi: Sehari Tanpa Suara, Seumur Hidup Penuh Makna

 


Hari Raya Nyepi merupakan hari besar umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Umat Hindu diharuskan untuk berdiam diri, tidak bekerja, dan merenungkan kehidupan mereka agar menjadi lebih baik di tahun yang baru. Keheningan dan ketenangan menjadi napas dari hari Raya Nyepi. Umat Hindu memerlukan suasana hening, sepi, dan tenang untuk  melakukan renungan, dan introspeksi terhadap kehidupan yang telah berlalu.

Di Indonesia Perayaan Hari Raya Nyepi sangat terasa di Bali, lantaran mayoritas penduduknya beragama Hindu. Dilansir dari Telkom university Pada Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama yang disebut Catur Brata Penyepian, yang meliputi:

1. Amati Geni (tidak menyalakan api atau listrik)

2. Amati Karya (tidak bekerja)

3. Amati Lelungan (tidak bepergian)

4. Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang)

Hari Raya Nyepi Umat Hindu juga menggelar serangkaian upacara adat. Sebagaimana dikutip dari Pemkab Buleleng tahapan upacara dimulai dari upacara Melasti, Mecaru, Pengerupukan, Nyepi hingga Ngembak Geni, upacara ini dilakukan dengan ritual yang khas. 

Adapun upacara pertama yang harus dilakukan yaitu upacara Melasti. Upacara Melasti dilaksanakan sebelum Hari Raya Nyepi tiba. Segala peralatan persembahyangan atau pretima di Pura disucikan di laut atau sungai. Melasti atau melelasti berarti menghanyutkan kotoran alam dengan air kehidupan. Kemudian, dilanjutkan dengan upacara Tawur atau mecaru. Upacara ini merupakan penyucian (Bhuta Kala), membasmi segala kotoran yang dilangsungkan di tiap-tiap rumah, desa, dan wilayah lainnya. Pelaksanaan Mecaru jatuh pada hari Tilem Sasih Kesange, satu hari sebelum Nyepi. 

Selanjutnya yaitu ada upacara Pengerupukan. Pengerupukan bermakna mengusir para Bhuta Kala dari pekarangan rumah dan lingkungan sekitar. Upacara ini diadakan setelah Mecaru, yakni dengan menabur nasi tawur, mengobori sekitaran, menyeburi rumah dengan Mesiu, dan juga membunyikan benda-benda supaya menimbulkan suara.

Hari Raya Nyepi dapat diartikan sebagai hari penyucian diri manusia dan alam. Nyepi bertujuan untuk membuang kotoran dan keburukan yang lalu agar siap menghadapi rintangan di tahun yang baru. Usai Nyepi, umat Hindu biasanya saling mengunjungi dan menjalankan tradisi maaf-maafan. 

Perayaan Hari Raya Nyepi menjadi momen refleksi bagi umat Hindu untuk  merenungkan perilaku selama setahun, sekaligus mendekatkan diri pada kebenaran yang abadi. Pelaksanaannya diwujudkan melalui serangkaian upacara. Dengan memaknai Nyepi, diharapkan kesucian jiwa serta kebahagiaan lahir dan batin dapat dicapai.


Penulis: NA

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa yang Berhak Menulis Sejarah? Menyoal Pemutakhiran Sejarah Indonesia di Tengah Kepentingan Kekuasaan #PojokTulisan

Laki-Laki Juga Butuh Ruang Aman; Maskulinitas Bukan Soal Dominasi #PojokTulisan

Gana Samuhita, Komunitas Sosial Pemuda yang Hidupkan Literasi di Rejang Lebong