Jembatan Cangar dan Empati yang Salah Arah

 


Kasus dua pemuda yang ditemukan meninggal di kawasan Jembatan Kembar Cangar dalam waktu berdekatan kembali mengguncang publik Indonesia. Peristiwa ini cepat viral di media sosial, memunculkan gelombang simpati luas. Namun di tengah duka, muncul pula narasi yang keliru sebagian warganet justru memberi penghormatan berlebihan, seolah tragedi tersebut adalah bentuk keberanian menghadapi hidup.

Padahal, peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bahwa persoalan kesehatan mental masih belum ditangani secara serius di ruang publik. Empati memang penting, tetapi romantisasi penderitaan justru berbahaya karena dapat menormalisasi tindakan ekstrem. Menghormati korban bukan berarti membenarkan tindakannya, melainkan memastikan tragedi seperti ini dibaca sebagai tanda bahwa dukungan sosial masih sangat dibutuhkan.

Bagi mahasiswa sebagai kelompok intelektual, kasus Cangar mestinya menjadi pengingat: ruang digital tidak cukup hanya ramai berduka, tetapi juga harus mampu menghadirkan kesadaran bahwa bertahan hidup dan mencari bantuan adalah keberanian yang sesungguhnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa yang Berhak Menulis Sejarah? Menyoal Pemutakhiran Sejarah Indonesia di Tengah Kepentingan Kekuasaan #PojokTulisan

Laki-Laki Juga Butuh Ruang Aman; Maskulinitas Bukan Soal Dominasi #PojokTulisan

Gana Samuhita, Komunitas Sosial Pemuda yang Hidupkan Literasi di Rejang Lebong