PASKAH: Di Antara Luka dan Kebangkitan

 

Setiap tahun, Hari Paskah datang bukan sekadar sebagai perayaan keagamaan, tetapi sebagai pengingat bahwa harapan selalu lahir dari luka. Kisah kebangkitan bukan hanya cerita masa lalu, melainkan cermin bagi manusia hari ini yang sering jatuh, kecewa, dan kehilangan arah. Di tengah dunia yang bising oleh ambisi dan kepentingan, Paskah mengajak kita berhenti sejenak merenung tentang arti pengorbanan dan keberanian untuk bangkit kembali. 

Paskah mengingatkan bahwa penderitaan tidak selalu menjadi akhir cerita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan ketidakadilan, pengkhianatan, bahkan kelelahan yang terasa tak berujung. Namun pesan kebangkitan mengajarkan bahwa selalu ada jalan pulang menuju harapan. Bahwa gelap tidak pernah benar-benar menang selama manusia masih percaya pada cinta dan kebaikan. 

Di tengah realitas sosial yang kadang terasa keras, nilai-nilai Paskah menjadi penting untuk dihidupkan kembali bukan hanya di rumah ibadah, tetapi juga di ruang-ruang publik, di kampus, di jalanan, dan di hati setiap orang. Kebangkitan seharusnya tidak berhenti sebagai simbol, melainkan menjadi gerakan: berani memperjuangkan keadilan, merawat empati, dan menjaga kemanusiaan tetap menyala.

Akhirnya, Paskah mengajak kita percaya bahwa setelah luka selalu ada cahaya. Bahwa setiap manusia punya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri dan memperbaiki dunia di sekitarnya. Dari sunyi kubur yang gelap, lahirlah harapan yang tak pernah padam dan mungkin, dari hati yang mau berubah, kebangkitan itu bisa dimulai hari ini. 


Penulis: HES


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa yang Berhak Menulis Sejarah? Menyoal Pemutakhiran Sejarah Indonesia di Tengah Kepentingan Kekuasaan #PojokTulisan

Laki-Laki Juga Butuh Ruang Aman; Maskulinitas Bukan Soal Dominasi #PojokTulisan

Gana Samuhita, Komunitas Sosial Pemuda yang Hidupkan Literasi di Rejang Lebong